14 Mei 2026

Kemasan PVC dan PS: Aplikasi, Regulasi, dan Alternatif

Kemasan PVC dan PS: aplikasi di farmasi, label, dan gelas plastik. Pelajari aturan BPOM, risiko styrene, dan alternatif lebih aman seperti PET dan PP.

Kemasan PVC dan PS: Aplikasi, Regulasi, dan Alternatif

Kalau Anda pernah lihat gelas plastik bening kaku di warung kopi, atau styrofoam wadah nasi padang, Anda sudah pegang PS. PVC lebih jarang muncul di kemasan makanan, tapi sering Anda temui di label shrink botol minuman dan blister obat.

Dua material ini sering dibahas bareng karena alasan yang sama. Keduanya pernah jadi pilihan populer untuk kemasan murah, tapi sekarang mulai ditinggalkan karena masalah keamanan pangan dan lingkungan. Buat pemilik bisnis, penting tahu kapan masih boleh pakai, kapan sebaiknya cari pengganti.

Artikel ini bahas apa itu PVC dan PS, di mana masih dipakai, aturan BPOM yang harus Anda ikuti, dan material apa yang lebih aman untuk produk Anda.

Apa itu PVC dan PS

Material kemasan plastik terbagi jadi banyak jenis dengan kode daur ulang berbeda. PVC adalah kode #3, PS adalah kode #6. Kode ini biasanya tercetak kecil di bawah kemasan.

PVC (polyvinyl chloride)

PVC adalah singkatan dari polyvinyl chloride. Dalam bentuk murni, PVC sebenarnya keras dan rapuh. Pabrik menambahkan bahan kimia yang disebut plasticizer agar PVC jadi lentur. Plasticizer inilah yang sering jadi sumber masalah, karena bisa berpindah ke produk yang dikemas.

PVC ada dua versi. Versi keras dipakai untuk pipa air dan blister obat. Versi lentur dipakai untuk cling film dan label shrink. Keduanya transparan, murah, dan gampang dicetak.

PS (polystyrene)

PS adalah polystyrene. Material ini ringan, kaku, dan transparan dalam bentuk biasa. Kalau dikembangkan dengan gas, jadinya styrofoam yang putih dan empuk itu. Dalam industri kemasan, ada dua jenis PS yang umum.

PS biasa atau GPPS bening dan kaku. Dipakai untuk gelas plastik sekali pakai dan tutup wadah jelly. HIPS atau high-impact polystyrene lebih kuat dan tidak gampang pecah, biasanya buram. EPS atau expanded polystyrene adalah styrofoam, dipakai untuk wadah makanan panas dan pelindung pengiriman barang.

Aplikasi PVC di kemasan

A close-up of transparent PVC blister packs containing small round white pharmaceutical tablets, arranged on a clean white surface with clear plastic blisters and aluminum foil backing visible

PVC paling banyak dipakai di kemasan farmasi dan label.

Blister obat hampir semuanya pakai PVC. Tablet ditempatkan di kantong-kantong kecil yang dicetak dari lembaran PVC tipis, lalu ditutup dengan foil aluminium. PVC dipilih karena bening, kaku, dan murah. Untuk obat yang sensitif kelembapan, kadang dilapisi PVDC agar lebih kedap.

Label shrink di botol minuman juga sering pakai PVC. Anda lihat label yang menempel rapat mengikuti bentuk botol Teh Pucuk atau Mizone. Itu shrink sleeve. Banyak yang pakai PVC karena shrink-nya rapi dan biaya cetak rendah. Tapi sekarang banyak brand pindah ke PETG karena lebih ramah daur ulang.

Cling film dapur juga ada yang pakai PVC. Tapi untuk kontak makanan, sebagian besar produk di Indonesia sekarang pakai LDPE. PVC cling film masih banyak di pasar tradisional dan layanan katering.

Aplikasi PS di kemasan

A stack of clear disposable polystyrene plastic cups on a stainless steel counter, with one cup filled with iced milk tea and a clear plastic straw, in a clean modern beverage shop setting

PS dipakai di banyak produk sekali pakai dan kemasan ringan.

Gelas plastik bening untuk es teh, es kopi, dan minuman dingin biasanya GPPS. Murah, kaku, dan terlihat bersih. Wadah jelly dan puding cup juga sering pakai PS. Untuk produk yang harus terlihat dari luar tapi tidak butuh kekuatan tinggi, PS jadi pilihan ekonomis.

HIPS dipakai untuk wadah yogurt, tutup cup, dan tray makanan. Karena lebih kuat dari GPPS, HIPS tidak gampang retak waktu didistribusikan. Banyak nampan plastik di supermarket pakai HIPS dilapisi film tipis untuk produk daging atau buah potong.

Styrofoam atau EPS dipakai untuk wadah nasi bungkus, gelas kopi panas, dan box pengiriman ikan. EPS bagus menahan suhu, jadi makanan tetap hangat dan ikan tetap dingin. Tapi makin banyak kota di Indonesia melarang EPS untuk makanan. Bogor, Bandung, dan beberapa daerah lain sudah punya peraturan daerah soal ini.


Mau ganti kemasan PVC atau styrofoam ke material yang lebih aman? Tim DelSolaria siap bantu cari alternatif yang pas dengan budget Anda.

Chat with us on WhatsApp


Regulasi BPOM dan kekhawatiran kesehatan

BPOM mengatur kemasan pangan lewat Peraturan BPOM tentang Bahan Kemasan Pangan. PVC dan PS keduanya boleh dipakai, tapi dengan syarat ketat.

Untuk PVC, masalahnya ada di plasticizer. Beberapa plasticizer seperti DEHP sudah dibatasi karena diduga ganggu hormon. Plasticizer ini bisa pindah ke makanan berlemak seperti minyak goreng, keju, atau daging. Karena alasan ini, PVC tidak boleh kontak langsung dengan makanan berlemak di banyak negara, termasuk Indonesia untuk aplikasi tertentu.

Untuk PS, masalahnya ada di residu monomer styrene. Styrene bisa berpindah ke makanan, terutama makanan panas dan berminyak. WHO dan IARC mengelompokkan styrene sebagai kemungkinan karsinogen pada manusia. Jumlah yang berpindah dari kemasan biasanya kecil dan masih di bawah ambang batas BPOM, tapi banyak buyer dan brand sekarang memilih hindari risiko sama sekali.

Kalau Anda mau pakai PVC atau PS untuk produk pangan, minta supplier kasih:

  • Sertifikat food-grade dari produsen resin
  • Hasil uji migrasi dari laboratorium independen
  • Dokumen kepatuhan terhadap aturan BPOM yang berlaku

Untuk panduan lengkap soal regulasi kemasan makanan, lihat aturan BPOM kemasan makanan.

Alternatif yang lebih aman

Banyak aplikasi PVC dan PS sekarang punya pengganti yang lebih aman dan tetap masuk anggaran.

Untuk gelas plastik bening, PET jadi pengganti utama. PET lebih jernih, lebih kuat, dan lebih mudah didaur ulang. Banyak coffee shop besar sudah pindah dari PS ke PET untuk gelas dingin mereka. Selisih harga per gelas hanya beberapa ratus rupiah.

Untuk wadah makanan panas, PP adalah pilihan paling aman. PP tahan suhu sampai 120 derajat Celsius dan aman untuk microwave. Wadah PP lebih mahal dari styrofoam, tapi bisa dipakai ulang dan tidak melepas styrene. Banyak restoran Indonesia sudah ganti styrofoam ke PP atau kertas berlapis.

Untuk cling film dan kantong fleksibel, LDPE atau PP film lebih aman. Sifatnya hampir sama, tapi tanpa masalah plasticizer. Sebagian besar produsen cling film modern di Indonesia sudah pakai LDPE.

Untuk shrink label, PETG dan OPS bisa menggantikan PVC. PETG lebih ramah daur ulang dan diterima sistem daur ulang botol PET. Beberapa brand besar di Indonesia sudah transisi ke PETG dalam dua tahun terakhir.

Untuk blister obat, alternatif belum sepopuler. PVC masih dominan karena performa dan biayanya. Tapi untuk obat premium, beberapa pabrik mulai pakai blister berbasis PP atau Aclar.

DelSolaria sudah produksi kemasan plastik di Tangerang lebih dari 20 tahun. Kami fokus di HDPE, PP, LDPE, dan PS, dan bantu klien pilih material yang aman dan masuk anggaran. Kalau Anda sekarang masih pakai PVC atau styrofoam dan mau evaluasi alternatif, kami bisa bantu hitung perbandingan biaya dan rekomendasi material yang pas.

Lebih baik tanya di awal sebelum cetak kemasan dalam jumlah besar. Salah pilih material bisa bikin produk ditarik dari pasar atau ditolak buyer besar yang ketat soal compliance.


Mau diskusi pengganti kemasan PVC atau PS untuk produk Anda? Kirim contoh produk dan target volume ke tim DelSolaria untuk dapat rekomendasi material.

Chat with us on WhatsApp


Langkah berikutnya

Punya proyek kemasan?